Guru, Lebih Dari Sekedar Profesi

Terinspirasi dari Catatan Seorang Guru:

Saya masih ingat sekali ketika beberapa tahun yang lalu guru saya almarhum Ustadz Ali Sarkowi menasehati kami seperti ini:

Janganlah kita menganggap murid sebagai gelas yang kosong, yang kemudian terus-menerus kita isi dengan air.
Gelas yang terus menerus diisi dengan air pada akhirnya akan tumpah, dan menjadi kosong lagi.

Maka, anggaplah murid sebagai pohon. Pohon itu akan tumbuh terus menerus. Setelah tiba masa panen, ia akan berbuah. Buahnya akan bermanfaat bagi siapa yang menginginkannya. Buah itu akan jatuh ke tanah, menciptakan bibit-bibit pohon baru. Demikian seterusnya.
Kita, guru, adalah petani pohon itu. Tugas kita menyemaikan pohon itu hingga berbuah, dan tumbuh menjadi pohon yang mandiri.
Tanaman, pohon, yang tidak pernah digubris oleh petaninya akan mati. Kalaulah ia tumbuh, pertumbuhannya akan terganggu. Akan dijadikan sasaran empuk hama-hama kehidupan. Ia tidak akan berbuah, hanya akan menjadi ilalang kering yang menjadi sampah berikutnya.

Jadi Bagaimana Maksudnya ???
Perhatian guru terhadap murid, dalam hal sekecil apapun, adalah besar pengaruhnya. Berangkat dari keinginan tulus seorang guru yang ingin menjadikan muridnya manusia sempurna, yang bisa menggunakan seluruh potensi kemanusiaannya. Itulah guru yang baik, seorang petani yang menanam pohon-pohon kehidupan.

Yang terpenting dari diri seorang guru adalah Jiwa guru

Sebuah adagium terdengar: metode lebih penting daripada pelajaran, pengajar lebih penting daripada metode, akan tetapi, di balik itu semua, ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri.

Pekerjaan guru pun tidak hanya sampai selesai di kelas. Di asrama, ada guru-guru yang bertugas menjadi syaikh asrama. Di berbagai organisasi, instansi dan klub, posisi guru menempati posisi tertinggi: pembimbing

Itu pun belum cukup. Guru harus mendoakan muridnya, begitu KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan suatu waktu.

Guru adalah pengemban amanat, seorang agent of change. Alangkah dahsyatnya peran seorang guru.

Kewajiban Murid….

Sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk menghormati dan menghargai guru. tidak sepantasnya seorang murid menghina atau Ghoiru Muaddab terhadap gurunya

Karena apabila guru tidak lagi ikhlas mengajarkan ilmunya meskipun murid sudah ikhlas untuk menerima pelajaran, maka tetap saja ilmu itu tidak akan sampai,tidak akan bisa tertransferkan.

إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَبِيْبَ كِلاَ هُمَا * لاَيَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا * وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمًا

Maka ketika seorang guru sudah berusaha semaksimal mungkin/ALL OUT dalam menjalankan fungsinya, janganlah sampai murid membuat keikhlasan atau keridhoan guru terkurangi

Tinggalkan Balasan