Masih ingat taushiyah Ustadz Hariri saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Ihsan pada Februari lalu? Dalam salah satu taushiyahnya Ustadz Hariri menyebutkan bahwa orang kaya tidak boleh pelit dalam menafkahkan hartanya. Dan jangan menunggu jadi kaya dulu baru mau bershadaqah. Artinya, Ustadz Hariri ingin menekankan berapapun harta yang dimiliki, kita harus bershadaqah secara optimal. Dan kalau kita banyak harta maka harus banyak pula shadaqahnya. Memang, bershadaqah dan berinfaq telah diperintahkan oleh Allah SWT seperti firmannya: “Hai orang-orang yang beriman. Nafkahkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi jual beli, tak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah golongan orang-orang yang dzalim”. (QS Al-Baqarah 254)
Firman Allah lainnya yang memerintahkan agar kita harus mengorbankan harta di jalan Allah, yaitu: “Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-Baqarah 195) Namun demikian tidak semata-mata Allah memerintahkan hambanya untuk beramal shaleh melalui harta, kecuali Allah akan menggantinya dengan rezeki yang berlipat. Firman Allah: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Baqarah:261). Firman Allah lainnya menyebutkan, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhoan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak didaratan tinggi yang disirami oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”. (QS Al-Baqarah: 265). Mengacu pada kedua ayat itu, kita harus yakin setiap apa yang kita keluarkan akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang lebih besar. Tidak hanya menjadi investasi nanti kita di akhirat, namun di dunia pun balasan atas amal baik itu akan dipetik hasilnya. Ini menunjukkan kalau Allah Maha Pemurah dan Maha Kaya. Bahkan semakin banyak harta yang dishadaqahkan, maka akan semakin banyak balasan yang diberikan Allah kepada hambanya. Ustadz Yusuf Mansyur dalam bukunya The Miracle of Giving membuat apa yang disebut Matematika Sedekah. Yusuf Mansyur mencontohkan kalau 10-1 bukan hasilnya 9 tapi 19. Dasar dari Matematika Sedekah ini adalah surat Al-An’aam ayat 160 yang berbunyi: “Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiyaya (dirugikan)”. (QS Al-An’aam: 160) Jadi, bershadaqah merupakan ladang investasi kita dalam mencari keridhoan Allah. Selain itu, shadaqah juga bisa menjadi solusi ketika kita menghadapi kesulitan. Firman Allah: “Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (QS AthThalaaq: 7) Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang selalu melakukan amal shaleh. Tentunya, setiap kita melakukan shadaqah, hanya dilandasi oleh keikhlasan untuk mencari ridho-Nya.Wallahualam bissawab.