“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)
Bulan Rajab telah lewat, dan kita akan menyambut bulan Sya’ban dan bulan suci Ramadhan. Pada dasarnya setiap perubahan bulan hijriah kita diminta berdoa agar diberi hidayah dari Allah SWT. Tetapi, pada di bulan Rajab dan Sya’ban ada yang lebih spesial, sehingga kita secara khusus disunnahkan berdoa meminta keberkahan. Mengapa?
Karena, bulan Rajab adalah salah satu dari Empat Bulan Haram atau yang dimuliakan Allah swt. (Bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Allah swt berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah [9]: 36)
Selain itu, pada bulan ini, paling tidak, umat diingatkan dengan salah satu peristiwa besar, yakni peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad saw., tepatnya tanggal 27 Rajab. Peristiwa ini bahkan diabadikan di dalam al-Quran (lihat QS al-Isra’ [17]: 1).
Para ulama bersepakat, bahwa pada peristiwa Isra Mi’raj inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban shalat lima waktu. Shalat lima waktu adalah salah satu kewajiban utama dan istimewa, yang karenanya berusaha untuk selalu dijaga dan dipelihara setiap Muslim. Karena itu, begitu pentingnya peristiwa Isra Mi’raj ini, kaum Muslim, khususnya di negeri ini, setiap tanggal 27 Rajab memperingatinya.
Sementara itu, terkait dengan bulan Sya’ban, bulan di mana banyak peristiwa yang patut menjadi perhatian mukminin. Antara lain, pada bulan Sya’ban ini merupakan saat di mana amalan hamba diangkat kepada Allah SWT, terjadinya perubahan arah kiblat yang berpindah dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di Makkah al-Mukarramah. Selain itu, pada bulan Sya’ban, Allah SWT menurunkan ayat tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw., yaitu: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Karena itu, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab [33]: 56).
Juga, pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah, yaitu malam Nishfu Sya’ban. Pada malam ini Allah SWT mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rezeki dan amal manusia.
Malam Nishfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban adalah saat yang tepat bagi seorang Muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah. Karena itu, selayaknya seorang Muslim memperbanyak ragam amal kebaikan.
Banyak hadis yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dha’if (lemah). Namun demikian, Al-Hafizh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian hadis-hadis tersebut, di antaranya, bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Yang pasti, Sya’ban adalah ‘pintu masuk’ menuju bulan suci Ramadhan. Sudah selayaknya setiap Muslim mempersiapkan diri pada bulan ini, dengan memperbanyak amal ibadah dan ketaatan. Tidak lain dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan untuk meraih keutamaannya yang jauh lebih besar. Sebab, di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 2).
Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan
Inilah harapan besar kita setelah meminta permohonan diberkahi di bulan Rajab dan Sya’ban. Kita meminta dipertemukan dengan Ramadhan untuk melakukan amal shaleh sebanyak-banyak, beribadah dan tentunya lagi pahala yang ghairu mamnun (tanpa putus).
Ramadhan adalah penghulu semua-bulan Hijriah sebagaimana hari Jum’at adalah penghulu semua hari-hari yang tujuh. Setiap tahun Ramadhan datang menyapa dan setelah itu pergi lagi. Keutamaan begitu banyak dan memang tidak mudah digapai seluruhnya oleh setiap muslim kecuali dengan susah payah dan kebersihan hati serta keikhlasan jiwa. Bagaikan sang pengantin yang bersiap-siap menemui si calon mempelainya dengan segudang rasa, seorang muslim yang merindukan bulan suci ini tidak akan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Ramadhan.
Nah, untuk mengoptimalkan saat-saat fenomenal nanti di bulan Ramadhan bersama Sang Kekasih itulah, kita harus sudah mempersiapkan segalanya dengan harapan semua fadhilah yang ada di dalamnya bisa ditangguk secara menyeluruh. Oleh karena itu, Rasulullah mengajak kita, umatnya untuk melakukan warming up di dua bulan yang juga tidak kalah pentingnya, yakni bulan Rajab dan Sya’ban. Dalam hadits di atas nabi memohon kepada Allah seraya mengajak umatnya, untuk diberikan keberkahan yang optimal dengan melakukan pelatihan amal sholeh dalam dua bulan itu.
Semoga kita bisa memanfaatkan bulan Rajab dan Sya’ban ini sebagai proses pelatihan dan training kebaikan menjelang bulan yang kita nanti-nantikan itu. Tentunya, dengan perasaan bahwa Ramadhan itu sudah dekat sehingga menjadikan kita lebih dekat lagi kepada Allah swt. Kalaupun takdir Allah “berkata lain” kepada diri kita, Insya Allah ajang pelatihan itu akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Ramadhan dengan ibadah, meski akhirnya itu akan menjadi pertemuan terakhir kita dengannya.
“Sampaikanlah kami (Ya Allah) ke bulan Ramadhan“. Amiin
*Edwin Aldrianto (Ketua Bidang Dakwah dan Pendidikan DKM Nurul Ihsan)